Kamis, 01 Oktober 2020
Senin, 28 September 2020
Selasa, 22 September 2020
Minggu, 20 September 2020
Senin, 14 September 2020
Kamis, 20 Agustus 2020
Minggu, 31 Mei 2020
Jumat, 15 Mei 2020
Kamis, 07 Mei 2020
Rabu, 29 April 2020
Selasa, 21 April 2020
Senin, 20 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 03 April 2020
Rabu, 01 April 2020
NGAJI GUS BAHA [ SIAPA PERTAMA YANG PALING IMAN] Ngaji tafsir QS : Al...
Yakni yang menyelimuti dirinya dengan kain ketika wahyu datang karena takut kepadanya disebabkan kemuliaannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berselimut ini ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuliakan Beliau dengan risalah-Nya dan mulai menurunkan wahyu kepada Beliau dengan perantaraan malaikat Jibril. Ketika itu, Beliau melihat perkara yang belum pernah dilihatnya dan tidak ada yang dapat teguh menghadapinya kecuali para rasul, maka Beliau terperanjat ketika melihat malaikat Jibril ‘alaihis salam. Setelah itu, Beliau mendatangi istrinya dan berkata dalam keadaan bergemetar, “Selimutilah aku-selimutilah aku.” Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan keteguhan kepadanya dan wahyu pun kemudian turun beturut-turut. Demikianlah yang diterangkan sebagian mufassir.
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan: Al Haafizh Abu Bakar Ahmad bin ‘Amr bin ‘Abdul Khaaliq Al Bazzar meriwayatkan dari Jabir ia berkata, “Orang-orang Quraisy berkumpul di Darunnadwah dan berkata, “Namailah orang ini (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) dengan nama yang dapat menghalangi manusia darinya.” Maka (sebagian) dari mereka berkata, “Seorang dukun.” Yang lain berkata, “Dia bukan dukun.” Sebagian mereka berkata, “Orang gila.” Sebagian lagi berkata, “Dia bukan orang gila.” Sebagian mereka berkata, “Seorang pesihir.” Sebagian lagi berkata, “Dia bukan pesihir.” Maka orang-orang musyrik berpecah belah dalam hal itu sehingga sampailah berita itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Beliau menyelimuti dirinya dengan kainnya dan berkemul dengannya. Kemudian malaikat JIbril ‘alaihis salam datang kepadanya sambil berkata, “Wahai orang yang berselimut (muzzammil)-Wahai orang yang berkemul (muddatstsir)!” Selanjutnya Al Bazzar mengomentari hadits ini, “Mu’alla bin bin ‘Abdurrahman telah dibicarakan oleh banyak ahli ilmu, namun mereka membawa haditsnya, akan tetapi ia sendiri membawakan hadits-hadits yang tidak ada mutabi’(penguat dari jalan yang sama)nya.”
Kami tidak mengetahui, apakah surat Al Muzzammil turun karena sebab sebelumnya atau karena sebab yang diterangkan dalam tafsir Ibnu Katsir tersebut, wallahu a’lam.
Di surah ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk beribadah, kemudian memerintahkannya untuk bersabar terhadap gangguan kaumnya dan memerintahkan untuk tetap berdakwah serta memerintahkan Beliau untuk mengerjakan ibadah yang paling utama yaitu shalat dan di waktu yang paling utama, yaitu malam.
[2] Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas ia berkata, “Ketika turun awal surah Al Muzzammil, maka mereka (para sahabat) melakukan qiyamullail seperti yang mereka lakukan di bulan Ramadhan sehingga turun ayat terakhir, dimana antara awal ayat dan akhirnya jarak turunnya hampir setahun.” (Syaikh Muqbil berkata, “Hadits ini para perawinya adalah para perawi hadits shahih selain Ahmad bin Muhammad Al Marwaziy Abul Hasan, namun ia tsiqah. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di juz 29 hal. 124-125 dimana para perawinya adalah para perawi hadits shahih. Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 4 hal. 436 dan para perawinya adalah para perawi hadits shahih.”).
Dengan demikian, shalat malam pada mulanya wajib, sebelum turun ayat ke 20 dalam surat ini. setelah turunnya ayat ke 20 ini hukumnya menjadi sunat.
Kamis, 19 Maret 2020
NGAJI GUS BAHA " Mengembalikan Islam seperti visi-visi Rosululloh"
<iframe width="459" height="344" src="https://www.youtube.com/embed/2mguHNGhOi0?clip=
Senin, 08 Januari 2018
Perlakuan Finance Terhadap Nasabah
Sungguh Derita diatas derita.
Mendengar cerita miris dari saudara saya yang bernama Pak No. Dia seorang tukang kayu yang hidupnya pas pasan. Karna untuk memenuhi kebutuhan dan alat transportasi, ahirnya memberanikan diri untuk kredit sepeda motor Honda REVO. Meskipun kadang telat bayar ahirnya finish juga angsuranya yakni 35 x selama tiga tahun, dengan angsuran sebesar 415.000/ bulan. Kalau ditotal nilainya hampir 20 juta. Selang kurang lebih 1 th stelah lunas semuanya angsuran, ada kebutuhan lg yakni harus ambil Listrik sendiri, alias pasang baru, karena selama ini kebutuhan listrik masih ikut anaknya. Ahirnya untuk mendapatkan uang biaya pemasangan listrik baru tersebut kembali leasing BPKB motor revo tersebut sebagai jaminan. Total pinjaman 5 juta selama 17 bulan. dengan angsuran 465.000,- perbulan. Kalau ditotal hampir 8 juta dana yang sudah masuk ke FIF sebagai angsuran tersebut. Sedangkan nilai motor tersebut saat ini kurang lebih 6 juta rupiah.
Dana sebesar 5 juta, selain untuk biaya pemasangan listrik baru, 1.800.000,- selebihnya untuk menutup kebutuhan yang lain. angsuran demi angsuran dilewati meskipun trasa berat, karena sebagai seorang tukang kayu. kadang juga sepi. Selain debt collektor yang datang, pembayaran dilakukan di Alfa Mart terdekat plus bunga/ denda keterlambatan. Karena saat itu ditinggal kerja dijakarta, dan masih kurang 1 X angsuran lagi harus tersendat dan kena denda. Hingga ahir bulan desember 2017 didatangi 2 orang deptcollektor. Ternyata mereka berdua adalah external yang biasa narik sepeda yang angsuranya macet.
Setelah melalui pembicaraan ahirnya Pak No berjanji untuk menyelesaikan sisa angsuran yg tinggal 1 serta dendanya yakni pada tgl 10 januari 2018 ini.
Dan yang kejam dirasa Oleh Pak No adalah rayuan 2 orang dept collektor/external, bahwa ahir tahun ini ada diskon yang hanya membayar 500.000 saja. Tapi dengan catatan harus datang ke kantor FIF. Ahirnya Pakno menurut saja karna dibujuk untuk pergi ke kantor FIF Bojonegoro. stelah membayar nanti dijanjikan BPKB lgsg boleh dibawa pulang. Pikir Pak No betapa senangnya.
Tetapi setelah dikantor FIF tersebut. ternyata hanya akal - akalan dari petugas external tersebut, agar motor bisa dibawa dan serahkan ke kantor. Tapi setelah itu uang 500.000 yang harapanya bisa melunasinya ternyata tidak. petugas FIF menyodorkan tagihan sebesar 1 juta. Kaget, Karena tidak cukup uang harus pulang untuk cari pinjaman lagi. disamping itu, Kang No yang belum tahu akan dalam hal ini menurut saja disuruh tanda tangan, entah apa isi perjanjian tsb. Yang jelas adalah untuk merayu agar mau tanda tangan kalau motor sudah diserahkan ke pihak FIF Bojonegoro. Dengan begitu dua orang si external bisa cair upahnya.
Karena uangnya tidak cukup ahirnya pulang kembali. Keesokan harinya kembali lagi kekantor FIF untuk membayar uang 1 juta yang dijanjiakan kemarin. Namun ternyata belum selesai sampai disitu. Pihak FIF memberitahu lagi bahwa pembayaran yg harus dibayar sebesar 1.5 juta. Setelah keesokan harinya lagi kembali Pak No datang ke kantor FIF dengan membawa uang sejumlah tersebut untuk ambil bpkb dan sepeda motornya. Ternyat tidak cukup disitu lagi, Dia diharuskan membayar 3.000.000,- .
Berhubung masih juga tidak cukup, sambil emosi karena kesal atas perlakuan pihak FIF ahirnya Pak No pulang kembali dengan setumpuk kekecewaan atas perlakuan tersebut.
Setelah mencari tambahan belum dapat ahirnya ada surat yg datang kerumah yang isinya motor harus ditebus sebesar 6 juta. krna pada tgl 29 des 2017 kalau tidak bisa bayar motor dilelang.
Itulah !!! betapa kejamnya finance, untuk melukai saudaranya sendiri. semua karyawan juga wong jowo, tp malah mateni dalan pangane sedulur dewe. Bayangkan selama 3 th mengangsur motor honda revo yang hampir 20 juta. Bukan itu saja. setelah Bpkb dilesingkan sebesar 5 jt, serta jumlah total yang harus dibayar hampir 8 juta, angsuran yang tinggal 1 saja. dan ada sesikit denda, motor harus diminta. Kasihan si Pak No saat ini, mau pergi kemana harus cari pinjaman sepeda, karna motor tsb adalah satu satunya sarana untuk mencari nafkah sehari hari. Setelah peristiwa itu, pernah beberapa kali berangakat dan pulang kerja dengan berjalan kaki. menempuh perjalanan kurang lebih 2 km.
Semoga pimpinan perusahaan membaca derita Pak No ini. mari kita rasakan seandainya kita yang mengalami hal seperti ini. Orang buta saja bisa merasakan pedih dan sakit bila mengalami peristiwa ini. "KECUALI YANG BUTA MATA HATI"
Tgl 5 Januari pihak FIF ngebel pak No, yang masih suruh memabayar 3 juta dan diberi batas tgl 6 januari 2018. Karena sebelumnya minta bantuan pak lurah setempat untuk mendatangi kantor FIF tersebut. Tetapi Pak No masih keberatan kalau harus membayar 3 juta lagi.
Yang diinginkan Pak No adalah membayar sesuai tagihan yang sebenatnya. Yakni 1 angsuran beserta denda keterlambatan.
Mendengar cerita miris dari saudara saya yang bernama Pak No. Dia seorang tukang kayu yang hidupnya pas pasan. Karna untuk memenuhi kebutuhan dan alat transportasi, ahirnya memberanikan diri untuk kredit sepeda motor Honda REVO. Meskipun kadang telat bayar ahirnya finish juga angsuranya yakni 35 x selama tiga tahun, dengan angsuran sebesar 415.000/ bulan. Kalau ditotal nilainya hampir 20 juta. Selang kurang lebih 1 th stelah lunas semuanya angsuran, ada kebutuhan lg yakni harus ambil Listrik sendiri, alias pasang baru, karena selama ini kebutuhan listrik masih ikut anaknya. Ahirnya untuk mendapatkan uang biaya pemasangan listrik baru tersebut kembali leasing BPKB motor revo tersebut sebagai jaminan. Total pinjaman 5 juta selama 17 bulan. dengan angsuran 465.000,- perbulan. Kalau ditotal hampir 8 juta dana yang sudah masuk ke FIF sebagai angsuran tersebut. Sedangkan nilai motor tersebut saat ini kurang lebih 6 juta rupiah.
Dana sebesar 5 juta, selain untuk biaya pemasangan listrik baru, 1.800.000,- selebihnya untuk menutup kebutuhan yang lain. angsuran demi angsuran dilewati meskipun trasa berat, karena sebagai seorang tukang kayu. kadang juga sepi. Selain debt collektor yang datang, pembayaran dilakukan di Alfa Mart terdekat plus bunga/ denda keterlambatan. Karena saat itu ditinggal kerja dijakarta, dan masih kurang 1 X angsuran lagi harus tersendat dan kena denda. Hingga ahir bulan desember 2017 didatangi 2 orang deptcollektor. Ternyata mereka berdua adalah external yang biasa narik sepeda yang angsuranya macet.
Setelah melalui pembicaraan ahirnya Pak No berjanji untuk menyelesaikan sisa angsuran yg tinggal 1 serta dendanya yakni pada tgl 10 januari 2018 ini.
Dan yang kejam dirasa Oleh Pak No adalah rayuan 2 orang dept collektor/external, bahwa ahir tahun ini ada diskon yang hanya membayar 500.000 saja. Tapi dengan catatan harus datang ke kantor FIF. Ahirnya Pakno menurut saja karna dibujuk untuk pergi ke kantor FIF Bojonegoro. stelah membayar nanti dijanjikan BPKB lgsg boleh dibawa pulang. Pikir Pak No betapa senangnya.
Tetapi setelah dikantor FIF tersebut. ternyata hanya akal - akalan dari petugas external tersebut, agar motor bisa dibawa dan serahkan ke kantor. Tapi setelah itu uang 500.000 yang harapanya bisa melunasinya ternyata tidak. petugas FIF menyodorkan tagihan sebesar 1 juta. Kaget, Karena tidak cukup uang harus pulang untuk cari pinjaman lagi. disamping itu, Kang No yang belum tahu akan dalam hal ini menurut saja disuruh tanda tangan, entah apa isi perjanjian tsb. Yang jelas adalah untuk merayu agar mau tanda tangan kalau motor sudah diserahkan ke pihak FIF Bojonegoro. Dengan begitu dua orang si external bisa cair upahnya.
Karena uangnya tidak cukup ahirnya pulang kembali. Keesokan harinya kembali lagi kekantor FIF untuk membayar uang 1 juta yang dijanjiakan kemarin. Namun ternyata belum selesai sampai disitu. Pihak FIF memberitahu lagi bahwa pembayaran yg harus dibayar sebesar 1.5 juta. Setelah keesokan harinya lagi kembali Pak No datang ke kantor FIF dengan membawa uang sejumlah tersebut untuk ambil bpkb dan sepeda motornya. Ternyat tidak cukup disitu lagi, Dia diharuskan membayar 3.000.000,- .
Berhubung masih juga tidak cukup, sambil emosi karena kesal atas perlakuan pihak FIF ahirnya Pak No pulang kembali dengan setumpuk kekecewaan atas perlakuan tersebut.
Setelah mencari tambahan belum dapat ahirnya ada surat yg datang kerumah yang isinya motor harus ditebus sebesar 6 juta. krna pada tgl 29 des 2017 kalau tidak bisa bayar motor dilelang.
Itulah !!! betapa kejamnya finance, untuk melukai saudaranya sendiri. semua karyawan juga wong jowo, tp malah mateni dalan pangane sedulur dewe. Bayangkan selama 3 th mengangsur motor honda revo yang hampir 20 juta. Bukan itu saja. setelah Bpkb dilesingkan sebesar 5 jt, serta jumlah total yang harus dibayar hampir 8 juta, angsuran yang tinggal 1 saja. dan ada sesikit denda, motor harus diminta. Kasihan si Pak No saat ini, mau pergi kemana harus cari pinjaman sepeda, karna motor tsb adalah satu satunya sarana untuk mencari nafkah sehari hari. Setelah peristiwa itu, pernah beberapa kali berangakat dan pulang kerja dengan berjalan kaki. menempuh perjalanan kurang lebih 2 km.
Semoga pimpinan perusahaan membaca derita Pak No ini. mari kita rasakan seandainya kita yang mengalami hal seperti ini. Orang buta saja bisa merasakan pedih dan sakit bila mengalami peristiwa ini. "KECUALI YANG BUTA MATA HATI"
Tgl 5 Januari pihak FIF ngebel pak No, yang masih suruh memabayar 3 juta dan diberi batas tgl 6 januari 2018. Karena sebelumnya minta bantuan pak lurah setempat untuk mendatangi kantor FIF tersebut. Tetapi Pak No masih keberatan kalau harus membayar 3 juta lagi.
Yang diinginkan Pak No adalah membayar sesuai tagihan yang sebenatnya. Yakni 1 angsuran beserta denda keterlambatan.
Selasa, 03 Oktober 2017
Masjid Namira
Semakin hari semakin banyak masjid ini dikunjungi, yaitu masjid "Namira" Bangunan masjid yang terletak di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung, Lamongan ini lebih menyerupai bangunan masjid minimalis seperti layaknya masjid-masjid di timur tengah.Masyarakat dan para jamaah dibuat takjub dengan bangunan yang megah dan halaman parkir yang luas serta suasana bersih dan asri. Tak hanya itu saja kekhasan yang dimiliki Masjid Namira. Saat masuk ke masjid yang dibangun tahun 2013 lalu, sebuah kiswah berukuran besar di bagian depan mihrab imam yang sengaja didatangkan dari Masjidil Haram, berdiri kokoh dan dilindungi kaca. Kiswah-kiswah berukuran kecil pun juga dipajang di sekeliling area dalam masjid, menambah ketakjuban.
Tak hanya kiswah, masyarakat dan jamaah bisa mencium wewangian khas Tanah Suci Mekkah seakan menambah kerinduan akan Baitulloh. Tak bisa dipungkiri, siapa saja yang menginjakkan kaki ke dalam masjid juga dimanjakan dengan empuknya karpet seperti berada di Roudhoh Madinah atau rumah Rosulullah SAW. Suasana adem dan khusyuk pun terasa saat menjalankan salat.
Fasilitas-fasilitas masjid milik warga Lamongan ini juga menyediakan kursi roda dan tempat duduk bagi jamaah yang tidak bisa melakukan salat dengan berdiri. Tak jarang, pengunjung dari bebagai daerah itu juga bisa jadi ajang berswafoto.
Tak hanya arsitektur bangunan masjid saja yang disamakan. Tata letak tempat wudhu juga dibangun dengan nuansa khas Masjidil Haram dan Madinah.
Konon, sebelumnya masjid memiliki luas 1 hektar dan mampu menampung 500 jamaah. Namun pada perkembangannya, masjid ini diperluas dan dibangun lagi kurang lebih 2,7 hektar dan mampu menampung tiga kali lipat dari bangunan sebelumnya.
Ahirnya terpenuhi sudah keinginan saya untuk mengunjungi masjid Namira ini. Suasana kedamaian kita temui disana.
Selasa, 29 Agustus 2017
Secangkir
Dari sowan kepada Al- Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan*28 Maret
2017. bersama Radio Nuansa Fm Bojonegoro.
Kalau ingin cepat terkabul hajatnya kuncinya yg LOMAN / Dermawan
Jaga aqidah ahlus sunah wal jama'ah, yg diwadahi di NU, dulu mbah Hasyim Asy'ari
sebelum mendirikan NU terkebih dahulu sowan kepada Habib Hasyim bin umar bin
Yahya ( kakek Habib Luthfi), & kpd Syaikhona Kholil Bangkalan, setelah kedua ulama
tsb memberikan isyarah utk " Terus" maka Mbah Hasyim Asy'ari kemudian
mewujudkannya bersama sahabat2 beliau
Artinya NU penuh dgn isyarah2 baik dari ulama2 besar.
Kalau hadiah fatihah jgn lupa menyebut ulama2 NU yg telah wafat terutama para
pendirinya
Hadiah Fatihah itu kalau bisa ditafshil ( sebut namanya satu, satu, jgn diglobal.
Kalau ada tokoh lain daerah yg wafat, bacakan tahlil & Ajak orang2 walaupun hanya 10
atau 15 menit, utk kerukunan , kebersaman & persatuan kita.
Budaya NU jgn sampe luntur, Tahlil, Manaqib, maulid dll, lewat acara2 tsb kita
menyatukan umat, & supaya terus tersambung dgn guru2 kita, inilah yg dilakukan para
sesepuh
( membuat pandai umat itu lebih mudah daripada menyatukan mereka)
mhn maaf apabila ada kesalahan
smg bermanfaat. Aamiin,
intisari petuah yang disampaikan kepada kami se-rombongan.
(Ust. Ach. Ruhani)
2017. bersama Radio Nuansa Fm Bojonegoro.
Kalau ingin cepat terkabul hajatnya kuncinya yg LOMAN / Dermawan
Jaga aqidah ahlus sunah wal jama'ah, yg diwadahi di NU, dulu mbah Hasyim Asy'ari
sebelum mendirikan NU terkebih dahulu sowan kepada Habib Hasyim bin umar bin
Yahya ( kakek Habib Luthfi), & kpd Syaikhona Kholil Bangkalan, setelah kedua ulama
tsb memberikan isyarah utk " Terus" maka Mbah Hasyim Asy'ari kemudian
mewujudkannya bersama sahabat2 beliau
Artinya NU penuh dgn isyarah2 baik dari ulama2 besar.
Kalau hadiah fatihah jgn lupa menyebut ulama2 NU yg telah wafat terutama para
pendirinya
Hadiah Fatihah itu kalau bisa ditafshil ( sebut namanya satu, satu, jgn diglobal.
Kalau ada tokoh lain daerah yg wafat, bacakan tahlil & Ajak orang2 walaupun hanya 10
atau 15 menit, utk kerukunan , kebersaman & persatuan kita.
Budaya NU jgn sampe luntur, Tahlil, Manaqib, maulid dll, lewat acara2 tsb kita
menyatukan umat, & supaya terus tersambung dgn guru2 kita, inilah yg dilakukan para
sesepuh
( membuat pandai umat itu lebih mudah daripada menyatukan mereka)
mhn maaf apabila ada kesalahan
smg bermanfaat. Aamiin,
intisari petuah yang disampaikan kepada kami se-rombongan.
(Ust. Ach. Ruhani)
Kamis, 24 Agustus 2017
Kisah Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Saat Dirampok
Sahabat, mari kita belajar dari Kisah Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Saat Dirampok , Suatu hari Abdul Qadir yang masih belia meminta izin ibundanya untuk pergi ke kota Bagdad. Bocah ini ingin sekali mengunjungi rumah orang-orang saleh di sana dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka.
Sang ibunda merestui. Diberikanlah kepada Abdul Qadir empat puluh dinar sebagai bekal perjalanan. Agar aman, uang disimpan di sebuah saku yang sengaja dibuat di posisi bawah ketiak. Sang ibunda tak lupa berpesan kepada Abdul Qadir untuk senantiasa berkata benar dalam setiap keadaan. Ia perhatikan betul pesan tersebut, lalu ia keluar dengan mengucapkan salam terakhir.
“Pergilah, aku sudah menitipkan keselamatanmu pada Allah agar kamu memperoleh pemeliharaan-Nya,” pinta ibunda Abdul Qadir.
Bocah pemberani itu pun pergi bersama rombongan kafilah unta yang juga sedang menuju ke kota Bagdad. Ketika melintasi suatu tempat bernama Hamdan, tiba-tiba enam puluh orang pengendara kuda menghampiri lalu merampas seluruh harta rombongan kafilah.
Yang unik, tak satu pun dari perampok itu menghampiri Abdul Qadir. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka mencoba bertanya kepadanya, “Hai orang fakir, apa yang kamu bawa?”
“Aku membawa empat puluh dinar,” jawab Abdul Qadir polos.
“Di mana kamu meletakkannya?”
“Aku letakkan di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”
Perampok itu tak percaya dan mengira Abdul Qadir sedang meledeknya. Ia meninggalkan bocah laki-laki itu.
Selang beberapa saat, datang lagi salah satu anggota mereka yang melontarkan pertanyaan yang sama. Abdul Qadir kembali menjawab dengan apa adanya. Lagi-lagi, perkataan jujurnya tak mendapat respon serius dan si perampok ngelonyor pergi begitu saja.
Pemimpin gerombolan perampok tersebut heran ketika dua anak buahnya menceritakan jawaban Abdul Qadir. “Panggil Abdul Qadir ke sini!” Perintahnya.
“Apa yang kamu bawa?” Tanya kepala perampok itu.
“Empat puluh dinar.”
“Di mana empat puluh dinar itu sekarang?”
“Ada di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”
Benar. Setelah kepala perampok memerintah para anak buah menggledah ketiak Abdul Qadir, ditemukanlah uang sebanyak empat puluh dinar. Sikap Abdul Qadir itu membuat para perampok geleng-geleng kepala. Seandainya ia berbohong, para perampok tak akan tahu apalagi penampilan Abdul Qadir saat itu amat sederhana layaknya orang miskin.
“Apa yang mendorongmu mengaku dengan sebenarnya?”
“Ibuku memerintahkan untuk berkata benar. Aku tak berani durhaka kepadanya,” jawab Abdul Qadir.
Pemimpin perampok itu menangis, seperti sedang dihantam rasa penyesalan yang mendalam. “Engkau tidak berani ingkar terhadap janji ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun mengingkari janji Tuhanku.”
Dedengkot perampok itu pun menyatakan tobat di hadapan Abdul Qadir, bocah kecil yang kelak namanya harum di mata dunia sebagai Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Drama pertobatan ini lantas diikuti para anak buah si pemimpin perampok secara massal.
Kisah ini diceritakan dalam kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari, yang mengutip cerita dari al-Yafi’i, dari Abu Abdillah Muhammad bin Muqatil, dari Syekh abdul Qadir al-Jailani. (Mahbib)
Diambil dari rubrik hikmah NU.Or.id
Sang ibunda merestui. Diberikanlah kepada Abdul Qadir empat puluh dinar sebagai bekal perjalanan. Agar aman, uang disimpan di sebuah saku yang sengaja dibuat di posisi bawah ketiak. Sang ibunda tak lupa berpesan kepada Abdul Qadir untuk senantiasa berkata benar dalam setiap keadaan. Ia perhatikan betul pesan tersebut, lalu ia keluar dengan mengucapkan salam terakhir.
“Pergilah, aku sudah menitipkan keselamatanmu pada Allah agar kamu memperoleh pemeliharaan-Nya,” pinta ibunda Abdul Qadir.
Bocah pemberani itu pun pergi bersama rombongan kafilah unta yang juga sedang menuju ke kota Bagdad. Ketika melintasi suatu tempat bernama Hamdan, tiba-tiba enam puluh orang pengendara kuda menghampiri lalu merampas seluruh harta rombongan kafilah.
Yang unik, tak satu pun dari perampok itu menghampiri Abdul Qadir. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka mencoba bertanya kepadanya, “Hai orang fakir, apa yang kamu bawa?”
“Aku membawa empat puluh dinar,” jawab Abdul Qadir polos.
“Di mana kamu meletakkannya?”
“Aku letakkan di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”
Perampok itu tak percaya dan mengira Abdul Qadir sedang meledeknya. Ia meninggalkan bocah laki-laki itu.
Selang beberapa saat, datang lagi salah satu anggota mereka yang melontarkan pertanyaan yang sama. Abdul Qadir kembali menjawab dengan apa adanya. Lagi-lagi, perkataan jujurnya tak mendapat respon serius dan si perampok ngelonyor pergi begitu saja.
Pemimpin gerombolan perampok tersebut heran ketika dua anak buahnya menceritakan jawaban Abdul Qadir. “Panggil Abdul Qadir ke sini!” Perintahnya.
“Apa yang kamu bawa?” Tanya kepala perampok itu.
“Empat puluh dinar.”
“Di mana empat puluh dinar itu sekarang?”
“Ada di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”
Benar. Setelah kepala perampok memerintah para anak buah menggledah ketiak Abdul Qadir, ditemukanlah uang sebanyak empat puluh dinar. Sikap Abdul Qadir itu membuat para perampok geleng-geleng kepala. Seandainya ia berbohong, para perampok tak akan tahu apalagi penampilan Abdul Qadir saat itu amat sederhana layaknya orang miskin.
“Apa yang mendorongmu mengaku dengan sebenarnya?”
“Ibuku memerintahkan untuk berkata benar. Aku tak berani durhaka kepadanya,” jawab Abdul Qadir.
Pemimpin perampok itu menangis, seperti sedang dihantam rasa penyesalan yang mendalam. “Engkau tidak berani ingkar terhadap janji ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun mengingkari janji Tuhanku.”
Dedengkot perampok itu pun menyatakan tobat di hadapan Abdul Qadir, bocah kecil yang kelak namanya harum di mata dunia sebagai Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Drama pertobatan ini lantas diikuti para anak buah si pemimpin perampok secara massal.
Kisah ini diceritakan dalam kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari, yang mengutip cerita dari al-Yafi’i, dari Abu Abdillah Muhammad bin Muqatil, dari Syekh abdul Qadir al-Jailani. (Mahbib)
Diambil dari rubrik hikmah NU.Or.id
Langganan:
Postingan (Atom)
