Selasa, 10 November 2020
Selasa, 06 Oktober 2020
Biografi Gus Baha' (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim)
KELAHIRAN
KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau biasa disebut dengan panggilan Gus Baha’ lahir pada 15 Maret 1970 di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Gus Baha’ merupakan putra dari seorang ulama pakar al-Qur’an dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA yang bernama KH. Nursalim al-Hafizh dari Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Ayah Gus Baha’ (KH. Nursalim) merupakan murid dari KH. Arwani al-Hafidz Kudus dan KH. Abdullah Salam al-Hafidz Kajen Pati, yang nasabnya bersambung kepada para ulama besar.
Dalam menjaga sekaligus membumikan al-Qur’an, ayah Gus Baha’ bersama dengan sahabatnya Gus Miek (KH. Hamim Jazuli) pada waktu itu beliau berdua membuat gerakan yaitu dengan menyelenggarakan semaan al-Qur’an secara keliling dari satu tempat ke tempat lain. Gerakan tersebut pada awalnya diberi nama Jantiko (Jamaah Anti Koler). Nama gerakan Jantiko kemudian mengalami perubahan menjadi Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah lagi menjadi gerakan Dzikrul Ghafilin.
Dari silsilah keluarga ayah, Gus Baha’ merupakan generasi ke empat ulama-ulama ahli al-Qur'an. Sedangkan dari silsilah keluarga ibu, Gus Baha’ menjadi bagian dari keluarga besar ulama Lasem, dari Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu.
KELUARGA
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sarang, Gus Baha’
menikah dengan seorang anak Kiai yang bernama Ning Winda pilihan pamannya dari
keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.
Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebut. Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari. Namun mertuanya hanya tersenyum dan mertuanya hanya mengatakan "klop" alias sami mawon kalih kulo (sama saja dengan saya).
Kesederhanaan Gus Baha’ dibuktikan saat beliau berangkat ke Pondok Pesantren Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Gus Baha’ berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus kelas ekonomi.
Gus Baha’ berangkat dari Pandangan menuju
Setelah menikah, Gus Baha’ mencoba hidup mandiri dengan
keluarga barunya. Gus Baha’ menetap di
Semenjak Gus Baha’ menetap di
KEILMUAN
Gus Baha' kecil dididik belajar dan menghafalkan al-Qur'an secara langsung oleh ayahnya dengan menggunakan metode tajwid dan makhorijul huruf secara disiplin. Hal ini sesuai dengan karakteristik yang diajarkan oleh guru ayahnya yaitu KH. Arwani Kudus. Kedisiplinan tersebut membuat Gus Baha’ di usianya yang masih muda, mampu menghafalkan al-Qur'an 30 Juz beserta Qiro'ahnya.
Menginjak usia remaja, ayahnya menitipkan Gus Baha' untuk mondok dan berkhidmah kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubairdi Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang. Pondok al-Anwar tepat berada sekitar 10 KM arah timur dari rumahnya.
Di Pondok Pesantren al-Anwar inilah keilmuan Gus Baha’ mulai menonjol seperti ilmu hadits, fiqih, dan tafsir.
Dalam ilmu hadis, Gus Baha’ mampu mengkhatamkan hafalan Sahih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain Sahih Muslim beliau juga mengkhatamkan dan hafal isi kitab Fathul Mu'in dan kitab-kitab gramatika bahasa arab seperti 'Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.
Bahkan menurut sebuah cerita, dengan banyaknya hafalan yang dimiliki oleh Gus Baha’, menjadikan beliau sebagai santri pertama al-Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak. Selain itu, menurut cerita lain juga menyebutkan bahwa, ketika akan mengadakan forum musyawarah atau batsul masa’il di pondok banyak teman-teman Gus Baha’ yang menolak kalau Gus Baha’ untuk ikut dalam forum tersebut, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan yang dimiliki oleh beliau.
Maka, atas dasar kedalaman keilmuan yang dimiliki Gus Baha’, hal ini yang kemudian membuat Gus Baha’ diberi kepercayaan untuk menjadi Rois Fathul Mu'in dan Ketua Ma'arif di jajaran kepengurusan Pesantren al-Anwar.
Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga merupakan sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau Syaikhina KH. Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta'bir dan menerima tamu-tamu ulama-ulama besar yang berkunjung ke al-Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina KH. Maimoen Zubair.
Dalam sebuah cerita, beliau pernah dipanggil untuk mencarikan ta'bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta'bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan "Iyo Ha'... Koe pancen cerdas tenan" (Iya Ha'... Kamu memang benar-benar cerdas).
Gus Baha' juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa'izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. "Santri tenan iku yo koyo Baha' iku...." (Santri yang sebenarnya itu ya seperti Baha' itu....) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina.
Selain mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren al-Anwar
Rembang, pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada Gus Baha’ untuk mondok
di Rushoifah atau Yaman. Namun Gus Baha’ menolaknya dan lebih memilih untuk
tetap di
Setelah ayahnya wafat pada tahun 2005, Gus Baha' melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di pondoknya, pondok pesantren LP3IA Narukan.
Selain menjadi pengasuh di pondoknya dan mengisi pengajian
di
KEISTIMEWAAN
Sebagai seorang santri tulen, yang berlatar belakang
pendidikan non-formal dan non-gelar, Gus Baha’ diberi keistimewaan untuk
menjadi sebagai Ketua Tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesa (UII)
Gus Baha’ duduk bersama para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur'an dari seluruh Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.
Pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan Gus Baha’ di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai mufassir, juga sebagai mufassir faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam al-Qur'an.
Setiap kali lajnah menggarap tafsir dan mushaf al-Qur'an menurut Prof. Quraisy, posisi Gus Baha’ selalu di dua keahlian, yakni sebagai mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur'an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur'an.
TELADAN
Teladan yang bisa ditiru dari Gus Baha' adalah tentang kesederhanaanya. Kesederhanaan yang dipraktikan Gus Baha’ bukan berarti keluarga Gus Baha’ adalah keluarga yang miskin, karena kalau dilihat dari silsilah lingkungan keluarganya, tiada satupun keluarganya yang miskin.
Bahkan kakek Gus Baha’ dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis perihal kesederhanaan beliau, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur'an yang dipegang erat oleh leluhurnya.
KARYA-KARYA
حفظنا لهذا المصحف لبهاء الدين بن نور سالم adalah kitab yang
ditulis oleh Gus Baha’. Kitab ini menjelaskan tentang rasm usmani yang
dilengkapi dengan contoh dan penjelasan yang disandarkan pada kitab al-Muqni'
karya Abu 'Amr Usman bin Sa'id ad-Dani (w. 444 H.). Kitab ini berguna bagi
siapapun untuk mengetahui bagaimana memahami karakteristik penulisan al-Qur’an
di dalam mushaf rasm usmani.
Tafsir al-Qur an versi UII dan al-Qur’an terjemahan versi
UII Gus Baha' (2020). Salah satu ciri khas tafsir dan terjemahan UII yang
ditulis oleh Gus Baha' dan Timnya adalah tafsir ini dikontekstualisasikan untuk
membaca
Kamis, 01 Oktober 2020
Senin, 28 September 2020
Selasa, 22 September 2020
Minggu, 20 September 2020
Senin, 14 September 2020
Kamis, 20 Agustus 2020
Minggu, 31 Mei 2020
Jumat, 15 Mei 2020
Kamis, 07 Mei 2020
Rabu, 29 April 2020
Selasa, 21 April 2020
Senin, 20 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Jumat, 03 April 2020
Rabu, 01 April 2020
NGAJI GUS BAHA [ SIAPA PERTAMA YANG PALING IMAN] Ngaji tafsir QS : Al...
Yakni yang menyelimuti dirinya dengan kain ketika wahyu datang karena takut kepadanya disebabkan kemuliaannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berselimut ini ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuliakan Beliau dengan risalah-Nya dan mulai menurunkan wahyu kepada Beliau dengan perantaraan malaikat Jibril. Ketika itu, Beliau melihat perkara yang belum pernah dilihatnya dan tidak ada yang dapat teguh menghadapinya kecuali para rasul, maka Beliau terperanjat ketika melihat malaikat Jibril ‘alaihis salam. Setelah itu, Beliau mendatangi istrinya dan berkata dalam keadaan bergemetar, “Selimutilah aku-selimutilah aku.” Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan keteguhan kepadanya dan wahyu pun kemudian turun beturut-turut. Demikianlah yang diterangkan sebagian mufassir.
Kamis, 19 Maret 2020
NGAJI GUS BAHA " Mengembalikan Islam seperti visi-visi Rosululloh"
Senin, 08 Januari 2018
Perlakuan Finance Terhadap Nasabah
Mendengar cerita miris dari saudara saya yang bernama Pak No. Dia seorang tukang kayu yang hidupnya pas pasan. Karna untuk memenuhi kebutuhan dan alat transportasi, ahirnya memberanikan diri untuk kredit sepeda motor Honda REVO. Meskipun kadang telat bayar ahirnya finish juga angsuranya yakni 35 x selama tiga tahun, dengan angsuran sebesar 415.000/ bulan. Kalau ditotal nilainya hampir 20 juta. Selang kurang lebih 1 th stelah lunas semuanya angsuran, ada kebutuhan lg yakni harus ambil Listrik sendiri, alias pasang baru, karena selama ini kebutuhan listrik masih ikut anaknya. Ahirnya untuk mendapatkan uang biaya pemasangan listrik baru tersebut kembali leasing BPKB motor revo tersebut sebagai jaminan. Total pinjaman 5 juta selama 17 bulan. dengan angsuran 465.000,- perbulan. Kalau ditotal hampir 8 juta dana yang sudah masuk ke FIF sebagai angsuran tersebut. Sedangkan nilai motor tersebut saat ini kurang lebih 6 juta rupiah.
Dana sebesar 5 juta, selain untuk biaya pemasangan listrik baru, 1.800.000,- selebihnya untuk menutup kebutuhan yang lain. angsuran demi angsuran dilewati meskipun trasa berat, karena sebagai seorang tukang kayu. kadang juga sepi. Selain debt collektor yang datang, pembayaran dilakukan di Alfa Mart terdekat plus bunga/ denda keterlambatan. Karena saat itu ditinggal kerja dijakarta, dan masih kurang 1 X angsuran lagi harus tersendat dan kena denda. Hingga ahir bulan desember 2017 didatangi 2 orang deptcollektor. Ternyata mereka berdua adalah external yang biasa narik sepeda yang angsuranya macet.
Setelah melalui pembicaraan ahirnya Pak No berjanji untuk menyelesaikan sisa angsuran yg tinggal 1 serta dendanya yakni pada tgl 10 januari 2018 ini.
Dan yang kejam dirasa Oleh Pak No adalah rayuan 2 orang dept collektor/external, bahwa ahir tahun ini ada diskon yang hanya membayar 500.000 saja. Tapi dengan catatan harus datang ke kantor FIF. Ahirnya Pakno menurut saja karna dibujuk untuk pergi ke kantor FIF Bojonegoro. stelah membayar nanti dijanjikan BPKB lgsg boleh dibawa pulang. Pikir Pak No betapa senangnya.
Tetapi setelah dikantor FIF tersebut. ternyata hanya akal - akalan dari petugas external tersebut, agar motor bisa dibawa dan serahkan ke kantor. Tapi setelah itu uang 500.000 yang harapanya bisa melunasinya ternyata tidak. petugas FIF menyodorkan tagihan sebesar 1 juta. Kaget, Karena tidak cukup uang harus pulang untuk cari pinjaman lagi. disamping itu, Kang No yang belum tahu akan dalam hal ini menurut saja disuruh tanda tangan, entah apa isi perjanjian tsb. Yang jelas adalah untuk merayu agar mau tanda tangan kalau motor sudah diserahkan ke pihak FIF Bojonegoro. Dengan begitu dua orang si external bisa cair upahnya.
Karena uangnya tidak cukup ahirnya pulang kembali. Keesokan harinya kembali lagi kekantor FIF untuk membayar uang 1 juta yang dijanjiakan kemarin. Namun ternyata belum selesai sampai disitu. Pihak FIF memberitahu lagi bahwa pembayaran yg harus dibayar sebesar 1.5 juta. Setelah keesokan harinya lagi kembali Pak No datang ke kantor FIF dengan membawa uang sejumlah tersebut untuk ambil bpkb dan sepeda motornya. Ternyat tidak cukup disitu lagi, Dia diharuskan membayar 3.000.000,- .
Berhubung masih juga tidak cukup, sambil emosi karena kesal atas perlakuan pihak FIF ahirnya Pak No pulang kembali dengan setumpuk kekecewaan atas perlakuan tersebut.
Setelah mencari tambahan belum dapat ahirnya ada surat yg datang kerumah yang isinya motor harus ditebus sebesar 6 juta. krna pada tgl 29 des 2017 kalau tidak bisa bayar motor dilelang.
Itulah !!! betapa kejamnya finance, untuk melukai saudaranya sendiri. semua karyawan juga wong jowo, tp malah mateni dalan pangane sedulur dewe. Bayangkan selama 3 th mengangsur motor honda revo yang hampir 20 juta. Bukan itu saja. setelah Bpkb dilesingkan sebesar 5 jt, serta jumlah total yang harus dibayar hampir 8 juta, angsuran yang tinggal 1 saja. dan ada sesikit denda, motor harus diminta. Kasihan si Pak No saat ini, mau pergi kemana harus cari pinjaman sepeda, karna motor tsb adalah satu satunya sarana untuk mencari nafkah sehari hari. Setelah peristiwa itu, pernah beberapa kali berangakat dan pulang kerja dengan berjalan kaki. menempuh perjalanan kurang lebih 2 km.
Semoga pimpinan perusahaan membaca derita Pak No ini. mari kita rasakan seandainya kita yang mengalami hal seperti ini. Orang buta saja bisa merasakan pedih dan sakit bila mengalami peristiwa ini. "KECUALI YANG BUTA MATA HATI"
Tgl 5 Januari pihak FIF ngebel pak No, yang masih suruh memabayar 3 juta dan diberi batas tgl 6 januari 2018. Karena sebelumnya minta bantuan pak lurah setempat untuk mendatangi kantor FIF tersebut. Tetapi Pak No masih keberatan kalau harus membayar 3 juta lagi.
Yang diinginkan Pak No adalah membayar sesuai tagihan yang sebenatnya. Yakni 1 angsuran beserta denda keterlambatan.
Selasa, 03 Oktober 2017
Masjid Namira
Semakin hari semakin banyak masjid ini dikunjungi, yaitu masjid "Namira" Bangunan masjid yang terletak di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung, Lamongan ini lebih menyerupai bangunan masjid minimalis seperti layaknya masjid-masjid di timur tengah.Masyarakat dan para jamaah dibuat takjub dengan bangunan yang megah dan halaman parkir yang luas serta suasana bersih dan asri. Tak hanya itu saja kekhasan yang dimiliki Masjid Namira. Saat masuk ke masjid yang dibangun tahun 2013 lalu, sebuah kiswah berukuran besar di bagian depan mihrab imam yang sengaja didatangkan dari Masjidil Haram, berdiri kokoh dan dilindungi kaca. Kiswah-kiswah berukuran kecil pun juga dipajang di sekeliling area dalam masjid, menambah ketakjuban.
Tak hanya kiswah, masyarakat dan jamaah bisa mencium wewangian khas Tanah Suci Mekkah seakan menambah kerinduan akan Baitulloh. Tak bisa dipungkiri, siapa saja yang menginjakkan kaki ke dalam masjid juga dimanjakan dengan empuknya karpet seperti berada di Roudhoh Madinah atau rumah Rosulullah SAW. Suasana adem dan khusyuk pun terasa saat menjalankan salat.
Fasilitas-fasilitas masjid milik warga Lamongan ini juga menyediakan kursi roda dan tempat duduk bagi jamaah yang tidak bisa melakukan salat dengan berdiri. Tak jarang, pengunjung dari bebagai daerah itu juga bisa jadi ajang berswafoto.
Tak hanya arsitektur bangunan masjid saja yang disamakan. Tata letak tempat wudhu juga dibangun dengan nuansa khas Masjidil Haram dan Madinah.
Konon, sebelumnya masjid memiliki luas 1 hektar dan mampu menampung 500 jamaah. Namun pada perkembangannya, masjid ini diperluas dan dibangun lagi kurang lebih 2,7 hektar dan mampu menampung tiga kali lipat dari bangunan sebelumnya.
Ahirnya terpenuhi sudah keinginan saya untuk mengunjungi masjid Namira ini. Suasana kedamaian kita temui disana.

